Breaking Post

jajaran media online POSTKOTA MAKASSAR.COM mengucapkan turut berduka cita atas musibah gempa dan tsunami yang menimpah masyarakat sulawesi tengah dan sekitarnya

Birahi Sang Pejabat Berujung Penjara

     












       Lelaki Abd.Kadir (45), salah seorang pejabat di Kantor Dinas Kebersihan dan Pemakaman (Disberkam) Kota Palopo, sejak Rabu (21/9), terpaksa menjadi penghuni baru ruang sel Polserta Palopo. Abd.Kadir digelandang oleh aparat Kepolisian, atas tuduhan pemerkosaan dan percobaan pembunuhan.
       Adalah  perempuan yang namanya sebut saja Wati (19), yang sehari-hari bekerja sebagai staf honorer di Kantor Disberkam Kota Palopo yang menjadi korbannya. Wati mengaku telah 'digenjot' secara paksa dalam keadaan pingsan, kemudian disekap dalam bungker yang hampir saja membuat nyawanya melayang.
        Peristiwa miris yang menimpa Wati, bermula pada Selasa (20/9). Pagi itu sekitar pukul 07.30, ponsel Wati tiba-tiba berdering. Ketika ditengok ternyata yang menelpon adalah Abd.Kadir yang kebetulan menjadi atasannya di Disberkam. Dari balik ponsel, Abd.Kadir minta agar Wati segera datang ke rumahnya di perumahan Al Marjan Singkat, Kota Palopo.
        Sebagai bawahan, tanpa pikir panjang, dengan enteng  Wati langsung menuju rumah Abd.Kadir. Dalam fikirannya mungkin ada perintah tugas yang harus diterima.
        Sekitar setengah jam perjalanan, Wati tiba di rumahnya Abd. Kadir dan langsung duduk di teras menunggu bosnya itu keluar rumah. Tidak lama kemudian, Abd.Kadir pun nongol di mulut pintu. Cuma anehnya, sebab sag bos tidak membawa map ataupun berkas. Yang  ditenteng di tangannya  justru selimut tidur.
         Difikiran Wati, mungkin si bos mau menjemur selimut. Tapi belum juga sempat berfikir panjang, tiba-tiba si bos dari arah belakang mendekap dan membungkus badan Wati dengan selimut tersebut, lalu mengangkat dan membopongnya masuk ke dalam rumah.
          Wati tentu kaget bukan kepalang dan langsung merontah-merontah dalam bungkusan selimut. Serta merta Wati sadar, jika dia dalam situasi genting. Ingin berteriak, tapi mulutnya sudah disumbat pakai kain.
           Abd.Kadir sendiri tampak mulai kesetanan. Birahinya yang mungkin sudah lama dipendam untuk 'menggenjot' Wati, sudah di ubun-ubun. Matanya melotot tak berkedip lagi melihat wanita impiannya sudah tergeletak didepan mata.
           Abd.Kadir pun mulai menggerayangi tubuh Wati yang terlilit kain selimut dan akan segera melampiaskan birahinya yang sudah meledak-ledak bagai bom molotov. Cuma saja, Wati ternyata tidak pasrah dan mencoba melawan dengan sebuah tendangan.
           Berhasil memang. Abd.Kadir sempat terpental dan membentur tabung gas.  Cuma saja, perlawanan Wati berakibat fatal, sebab birahi Abd.Kadir serta merta bercampur amarah. Abd. Kadir bangkit dan langsung memukul leher bagian belakang Wati. Pukulan itu kontan membuat Wati linglung sesaat, pandangannya berkunang-kunang, lalu kemudian gelap dan tak sadarkan diri. Pingsan.
           Pucuk dicinta ulanpun tiba. Tubuh Wati terkapar lunglai dilantai tak sadarkan diri. Kesempatan ini betul-betul dimanfaatkan oleh Abd.Kadir untuk 'menyelesaikan' urusannya. Dan tanpa ba..bi..bu..Abd.Kadir langsung 'menyerang' dengan kekuatan penuh. Abd.Kadir betul-betul bebas 'menyelesaikan tugas' yang sudah lama diimpi-impikan, tanpa hambatan dan perlawanan sedikitpun.
           Seusai melampiaskan birahinya, Abd.Kadir lalu membopong tubuh Wati ke belakang rumahnya. Disana ada sebuah bungker kecil tidak terpakai. Abd.Kadir rupanya ingin menghilangkan jejak. Dan benar juga, Abd.Kadir, lalu memasukkan tubuh Wati ke dalam bungker lalu menutupinya dengan cor beton.
           Difikiran Abd.Kadir, jika Wati tewas, maka jasadnya akan tersembunyi di bungker tersebut. Jejak hilang dan perkara selesai. Cuma saja, ceritanya menjadi lain, sebab ternyata, setelah 7 jam mendekam dalam bungker tersebut, nyawa Wati ternyata tidak melayang. Wati sadar dari pingsannya, dan dengan sisa-sisa tenaga, Wati mencoba mendorong cor penutup bungker.
           Tanpa dinyana, istri Abd.Kadir kebetulan berada dekat bungker tersebut dan melihat ada tangan menggapai-gapai keluar dari bungker. Istri Abd.Kadir lalu  menolong menarik, dan Watipun terbebas dari maut.
           Atas peristiwa itu, Abd.Kadir kemudian dijemput di Kantornya Disberkam keesokan harinya Rabu (21/9) oleh Aparat Polresta Palopo, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Yang pasti, gara-gara birahi, penjara menanti. (@yais)
Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel