03 September 2016

"Kenapa Masih Merokokki Tata"

Tags

Paronda (Parodi Obrolan Daerah)
 by@yais



"Tata' tampak asyik menikmati sebatang rokok yang tertancap di bibirnya. Tetta jadi bingung sendiri, sebab Tata' pernah bilang akan berhenti merokok di saat Pemerintah menaikkan harga rokok menjadi Rp.50 ribu per bungkus mulai 1 September 2016".

Tetta : Edede... kenapa na masih merokokki kuliat itu Tata', na bulan Septembermi ini.
Tata' : Ka bukan bulan Septemberka yang mau kasih berhentiki merokok Tetta.
Tetta : Apayyaji paleng.
Tata' : Tantumi harganya rokoka Tetta. Kalau sudah limpu'mi harganya satu bungkus, pasti tong berhentika iya. Pastimi Tetta.
Tetta : Ka kurasa bulan Septembermi ini Tata', waktunyami naik harga rokoka.
Tata' : Tapi nyatanya harga rokok belumpi berubah Tetta. Itu artinya masih bisaki merokok.
Tetta : Ka biar tong naikmi harga rokoka, kalau masih mauki merokok Tata', bisa tonji ka tidak adaji yang melarang.
Tata' : Ooo Tetta, ada yang larangki merokok atau tidak, kalau harganya limpu' satu bungkus, harus memang tongki iya berhenti, tidak ada carita.
Tetta : Kenapa begitu Tata'
Tata' : Tantumi begitu Tetta, cobami bayangkan, satu bungkusmo satu hari, jadi kalau satu bulan, satu setengah jeti untuk rokokji Tetta. Jadi kalau 2 bungkus atau 3 bungkus per hari, itu sama dengan remo Tetta. Pokonya barenti.
Tetta : Itumi yang kupikir-pikir ini Tata', kenapa na bulan September ini, tapi belumpi berubah harga rokoka. Atau mungkin masih pakai harga stok lama Tata'.
Tata' : Kira-kira tong, tapi bagus tonji iya, ka itu sama dengan masih na kasikki kesempatan merokok dengan harga normal.
Tetta : Kenapa seng na ada istilah harga normal Tata'.
Tata' : Massukku itu Tetta, ka selama ini harganya rokoka, naik ta' sedikit-sedikitji, tapi yang narancang pemerintayya, harganya tiba loncat 3 kali lipat. Ka tidak normalmi itu namanya Tetta.
Tetta : Tapi kuliat kemarin ke media sosialka Tata', harga rokok tidak rataji limpu, tapi berpariasiji sesuai mereknya.
Tata' : Ba coco'mi, tapi yang paling murah Tetta, Rp. 32.500.- satu bungkus. Ka beda-beda tipisji dengan yang limpuka.
Tetta : jadi tidak ada memang tommi ini jalannya untuk tidak berenti merokok Tata'.
Tata' : Sebenarnya masih adaji iya jalannya Tetta
Tetta : Jalan bagaimana sedeng Tata'.
Tata' : Satu-satunya jalan supaya tetapki merokok, kalau batalki dikasi naik harganya rokoka Tetta.
Tetta : Dehh, ka bukan jalan keluar itu namanya Tata', ka itumi yang jadi persoalan.
Tata' : Ba, begitumi. Jadi barangkali bagus kalau janganmi dipikirkan. Terserahmi pasar. Kalau na kasih naiki, berhentiki, kalau tidak jadi naik, ya tetapki merokok. Beres.
Tetta : Ba tawwa, cocoki. (*)