Breaking Post

jajaran media online POSTKOTA MAKASSAR.COM mengucapkan turut berduka cita atas musibah gempa dan tsunami yang menimpah masyarakat sulawesi tengah dan sekitarnya

Propaganda Kotak Kosong Mulai Merebak Di Makassar

SERASI (postkota makassar)


Pasca keluarnya Putusan MA, Senin (23/4), yang kemudian mengakhiri mimpi Moh.Ramdhan Pomanto untuk "oppo" di Pilkada Makassar pada Juni 2018 mendatang, otomatis membuat konstalasi politik di akar rumput menjadi berubah.

Jika nama Danny Pomanto yang berpasangan dengan Indira Mulyasari Paramastuty pasangan  calon nomor urut 2 dengan tagline DIAmi, awalnya dieluk-elukkan oleh para pendukung dengan target "oppoki", maka dengan keluarnya Putusan MA yang memberangus impian "oppoki", maka kini target pun berubah.

Sasarannya jelas, tidak lain adalah objek yang menggantikan kedudukan Danny-Indira di Pilkada Makassar, yakni sebuah kotak suara untuk menampung suara pemilih yang tidak setuju dengan Appi-Cicu, atau yang lebih pupoler dengan istilah Kotak Kosong.

Terhitung hanya beberapa jam sejak beredarnya Keputusan MA yang menolak gugatan Kasasi KPU Makassar, propaganda untuk memilih Kotak Kosong sebagai pengganti pasangan DIAmi di Pilkada Makassar, mulai merebak, baik melalui ponsel maupun melalui media sosial.

Simbol-simbol dukungan untuk Sang Kotak Kosong langsung menyebar hanya beberapa jam selepas keluarnya Putusan MA, seperti kaos oblong, brosur-brosur, status-status medsos dan sejenisnya.

Target para propagator ini jelas adalah untuk membuat kedudukan akhir dari Pilkada Makassar menjadi seri, sebab aturannya jelas, jika Si Kotak Kosong berhasil meraih suara 50 persen plus 1, maka Pasangan Appi-Cicu pun batal jadi Walikota.

Tentu sisa itulah satu-satunya jalan yang bisa dilakukan oleh para pendukung setia DIAmi. Kecuali untuk para pandukung jadi-jadian dan kutu loncat, tentu lain cerita dan pasti akan mati-matian merusaha mendekat ke tim Appi-Cicu.

Sesungguhnya, bagi masyarakat Kota Makassar pada umumnya, siapapun yang menjadi Walikota, sama saja. Siapapun dia, pasti akan berfikir dan berbuat untuk kemaslahatan Kota dan Masyarakatnya.

Kalaupum kemudian ada kepentingan-kepentingan secara pribadi ataupun kelompok-kelompok tertentu yang akan mengambil keuntungan, itupun biasa saja, sebab sekali lagi, siapapun jadi Walikota, kepentingan pribadi dan kelompok tidak mungkin dihilangkan. Itu sudah menjadi paradigma turun temurun mulai dari jaman majapahit.

Bahwa Appi-Cicu tidak lagi terbantahkan sebagai Calon tunggal Pilkada Makassar yang akan digelar pada Juni mendatang. Akan tetapi, pilihan dan keyakinan masyarakat untuk memberikan suara kepada Si Kotak Kosong, adalah sebuah panetrasi dan akselerasi politik formal  yang harus diterima oleh semua pihak.

Pertanyaan sekarang adalah, adakah pihak yang bersedia mengawal dan menjaga perolehan suara Si Kotak Kosong kelak.  Soalnya Si Kotak Kosong tidak punya siapa-siapa, tidak punya tim sukses untuk menjadi saksi di tps-tps, dan yang lebih fatal adalah tidak punya biaya operasional.

Jika pertanyaan diatas tidak ada yang bisa menjawab, maka perjuangan Si Kotak Kosong dapat dipastikan akan menjadi sia-sia belaka, dan kedudukannya di proses pemilihan kelak, hanya akan menjadi objek formalitas belaka, sebab jika tak ada saksi dan pengawalan serius, maka siapa yang bisa tau perolehan suara Si Kotak Kosong sesungguhnya. Tabe. (@yusuf adam ismail)
Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel