04 July 2018

Wawancara Khusus Dengan Mr.Koko




Pentas Pilkada 2018 telah usai. Meski KPU hingga 4 Juli ini belum melakukan Pleno Penetapan Pemenang untuk Daerah yang menyelenggarakan Pilkada, namun bayang-bayang Kemenangan dan Kekalahan pasangan-pasangan yang bertarung, sudah bisa ditebak, bahkan di beberapa daerah sudah bisa dipastikan.

Kota Makassar adalah salah satu daerah di Sulsel yang turut dalam penghelatan Pilkada Serentak 2018 ini. Awalnya, Pilkada Kota Makassar akan diikuti oleh 2 pasang kontestan yang akan bertarung memperebutkan Kursi Walikota dan Wakil Walikota Makassar. Dia adalah Pasangan Munafri Arifuddin - Rachmatika Dewi (Appi-Cicu) dan Moh.Ramdhan Pomanto - Indira Mulyasari (Diami).

Sayangnya, Pasangan Diami terpaksa hanya bisa jadi penonton, setelah didiskualifikasi oleh KPU Kota Makassar, gara-gata digugat habis-habisan oleh pasangan Appi-Cicu, sebagai pasangan yang melanggar aturan Pilkada.

"Target" untuk menjadi calon tunggal bagi pasangan Appi-Cicu pun tercapai. Cuma saja, aturan Pilkada mengisyaratkan jika hanya ada satu pasang calon berbentuk manusia, maka rivalnya adalah mahluk non manusia yang kemudian dikenal dengan nama Mr.Koko alias Kotak Kosong.

Yang mencengangkan kemudian adalah, hasil pemungutan suara di Pilkada Kota Makassar ini, berdasarkan hasil perhitungan real di 15 Kecamatan yang bertebaran di media-media, memastikan Mr.Koko menang telak.

Menyikapi gejala kemenangan mutlak tersebut, postkota makassar.com, melakukan wawancara imajinasi yang dalam praktek jurnalistik kontemporer di sebut "Imagine Interview" atau wawancara imajiner, dengan Mr.Koko, yang ditemui dikediamannya, di alam khayal.

Berikut petikan wawancara sederhana postkota makassar (PKM) dan Mr.Koko (KK).

PKM : Apa kabar Koko

KK : Bae', saya akan selalu bae'-bae' saja selamanya.

PKM: Bagaimana, sehat ...

KK : ooohhh iyalah, saya ini akan selalu sehat, sehat terus, tidak akan sakit bahkan tidak akan mati, karena saya ini sudah ditakdirkan untuk dipergunakan oleh ummat manusia sampai akhir jaman.

PKM : Begitukah ...

KK : Yah begitulahhh,  sebab sejak manusia pertama sampai manusia terakhir di bumi ini, saya akan terus ada bersama mereka. Saya ini diserahi banyak tugas  di kehidupan manusia, mulai tugas yang mulia sampai tugas yang paling kotorpun ku tanggung semua. Saya tidak peduli, karena saya toh tidak punya tanggung jawab apa-apa terhadap tugas-tugas saya.

PKM : Lha kenapa begitu Ko ...

KK : Iya iyalahhh, masa iya uang celengan di Masjid hilang, terus saya disuruh ganti, yah tidaklah, sebab tugas saya  kan cuma diisi masuk, dan inilah tugas saya yang paling mulia.  itu contohji bosku.

PKM : Kalau tugas yang kotor Ko ..

KK : Yah jelaslah, disuruh sembunyikan uang dan harta-harta hasil curian, hasil korupsi, hasil panipuan dan hasil perbuatan kotor manusia lainnya. Tapi saya cuek saja, sebab kalau pelaku-pelakunya di tangkap Polisi, saya sih bebas dan tenang-tenang saja. Tidak ada urusan. Iya toh.

PKM : Ba tawwa cocoki ..

KK : Cocoki iya.

PKM : Ha..ha...ha...

KK : Ha...ha...ha... juga.

PKM : Yah, tapi begini Ko, saya ini mau wawancara soal Hasil Pilkada Kota Makassar, kabarnya Koko menang mutlak.

KK : Ahhhh itu dia, saya inikah sejak jaman dahulu kalaji, selalu ada dan pasti ada di kegiatan Pemilihannnya ummat manusia.Tugasku jelas, hanya  menampung lembaran-lembaran suara, ituji. Selesai dibuangma, tapi tidak masalah, sebab saya kemudian diperebutkan oleh payabo, lalu ditimbang terus hasilnya dibelikan makanan atau manuman, tugasku selesai lagi, dan itu akan terus terulang sampai dunia kiamat.

PKM : Tapi di Pilkada Makassar, Koko ikut bertarung ...

KK : Ahhhhh itumi, sambarang tong kalian ini para manusia. Masak tosseng saya disuruh melawan manusia, na tugas saya ini jelas melayani kalian dalam hal baik ataupun buruk.

PKM : Tapi Aturan Hukum yang memaksa Koko untuk bertarung lawan manusia ...

KK : Aturan kalian ini aneh-aneh saja, seperti mami tidak ada manusia yang bisa bertarung, terus kalian paksa-paksa saya untuk ikuti permainan kalian. Ada-ada saja, herang tong saya.

PKM : Tapi kan sudah terjadi Ko ...

KK : Ya, terjadimi itu iya, mo diapakan lagi. Sekarang saya korbanmi terseret masuk ke permainan kalian. Mestinya tugas saya selesai setelah perhitungan suara, tapi nyatanya, kalian menjerumuskan saya, seolah saya yang memenangkan pertarungan ini, padahal apa, ini semua adalah kepentingan kalian, saya tidak punya kepentingan apa-apa, tapi saya terus diseret masuk. Betul-betul kotor kalian.

PKM : Jadi bagaimana kalau sudah begini Ko ...

KK : Lha, emang gue pikirin. Terserah kalian, ini urusan kalian, masa saya diminta berfikir, yang benar saja, memangnya saya ini punya otak, sambarang tong.

PKM : Ah, masa Koko tidak peduli sama sekali dengan orang- orang yang sudah memilih Koko...

KK : Owwwwww tidaklah, apa urusan saya, saya tidak pernah minta kalian pilih saya, saya ini tidak pernah kampanye, tidak pernah bagi-bagi sembako, apalagi bikin serangan fajar.  Yang ada, saya ini hanya bikin serangan jantung. Jadi saya ini sebenarnya justru keberatan, karena banyak dari kalian melempar propaganda, bahkan kampanye atas nama saya, seolah saya ini peserta pilkada, padahal kalian tidak pernah minta izin kepada saya. Bagaimana ini bos.

PKM : Jadi, apakah Koko akan melapor ke pihak berwajib atas pencatutan nama Koko ...

KK : Alamak, you juga punya pertanyataan tolo-tolo, bagaimana bisa saya lapor Polisi.  Ah sudahlah, kalian ini orang-orang aneh, siapa suruh pilih saya, nah saya tidak perlu dipilih, karena biar terpilihka, tidak di lantikja juga. Jadi bo halapang ji.

PKM : Tapi Koko tau nda, kalau Koko ini dijadikan simbol perlawanan terhadap kesholiman ...

KK : Ahhh itukan menurut kalian yang mau berlindung di belakangku. Tapi lawan kalian akan menganggap saya bikin petaka, bikin bencana dan bikin cilaka. Inikan konyol namanya bos.

PKM : Tapi tidak ada lagi pilihan Ko, Koko harus terima kenyataan ...

KK : Inimi namanya enak di lho, kagak enak di gue. Dasar manusia. Tapi sudahlah, bagaimanapun ini sudah terjadi.

PKM : Kalau begitu, selamat atas terpilihnya Koko Jadi Walikota ...

KK : Kwkwkwkwkwwkkwkwk .......

(@yusufadamismail)